Sunday, August 15, 2010

Wajah 27

SUDAHLAH ...

Ketika mimpimu yg begitu indah,
tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu,
dan tak pernah sampai..ya sudahlah (hhmm)


Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be OKAY


Yo.. Satu dari sekian kemungkinan
kau jatuh tanpa ada harapan
saat itu raga kupersembahkan
bersama jiwa, cita,cinta dan harapan


Kita sambung satu persatu sebab akibat
tapi tenanglah mata hati kita kan lihat
menuntun ke arah mata angin bahagia
kau dan aku tahu,jalan selalu ada

Juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang
bagai deras ombak yang menabrak karang
namun ku tahu..ku tahu kau mampu tuk tetap tenang
hadapi ini bersamaku hingga ajal datang


Sempat kau berharap keramahan cinta,
tak pernah kau dapat..ya sudahlah
yeeah..dengar ku bernyanyi..lalalalalala
heyyeye yaya dedudedadedudedudidam..semua ini belum berakhir


Satukan langkah..langkah yg beriring!
genggam hati, rangkul emosi!


Genggamlah hatiku, satukan langkah kita


Sama rasa, tanpa pamrih
ini cinta..across da sea

Peluklah diriku..terbanglah bersamaku, melayang jauh.. (come fly with me, baby)


Ini aku dari ujung rambut menyusur jemari
sosok ini yg menerima kelemahan hati
yea..aku cinta kau..(ini cinta kita)
cukup satu waktu (untuk satu cinta)

Satu cinta ini akan tuntun jalanku
rapatkan jiwamu yo tenang disisiku
rebahkan rasamu..untuk yg ditunggu
BAHAGIA..HINGGA UJUNG WAKTU..

(Bondan)

Thursday, August 12, 2010

Wajah 26

MEDUSA



Matamu jendela dimana aku bisa melihat hatimu bicara padaku.
Begitu indahnya perjalanan yang telah kita lalui
kamu diam, tapi hati kita selalu bicara
hanya butuh kulihat tatapanmu
dan aku tak butuh lainnya...

Kini aku rindukan semua itu
saat hati tinggal menjadi batu
saat semua tatapan keindahan itu tak lagi bicara
saat waktu tak lagi berpihak


Kau akan menjadi batu .....

Wednesday, August 11, 2010

Wajah 25

FEVER





I've been bitten by the bug and I am coming down with oh

Something that can't be cured

There ain't a doctor in this town who is more qualified than you

Yeah, to be so adored


So tell me what do you prescribe for these symptoms

A heart beating faster and work is a disaster

I'm lovesick when you're not around

Check me over

When strong hands are healing

I'm dancing on the ceiling


Fever sure has got me good

What do you do when fever takes hold

I can't help but need this drug

Don't you feel the fever like I do

Feel the fever


I am ready for the news so tell me straight

Hey doctor just what do you diagnose

There ain't a surgeon like you any place in the world

So now shall I remove my clothes

So tell me what do you advise for these symptoms


A heart beating faster and work is a disaster

I'm lovesick when you're not aroundCheck me over

When strong hands are healing

I'm dancing on the ceiling


(Kyle)

Monday, August 9, 2010

Wajah 24

U DON'T UNDERSTAND ME




I've been up all night, you've been puttin' up a fight.
Seems like nothin' I say gets through.
How did this old bed fit a world between me and you.
We said "Goodnight" but the silence was so thick
you could cut it with a knife.
We've hit the wall again and there's nothin' I can do.
You're the one, yea, I've put all my trust in your hands.
C'mon and look in my eyes, here I am, here I am

You don't understand me, my baby.
You don't seem to know that I need you so much.
You don't understand me, my feelings,
the reason I'm breathin', my love

The mornin' comes and you're reaching out for me
just like everything's the same
and I let myself believe things are gonna change.
When you kiss my mouth and you hold my body close,
do you wonder who's inside?
Maybe there's no way we could feel each other's pain.
Tell me why it gets harder to know where I stand.
I guess loneliness found a new friend, here I am

You don't understand me...

You don't seem to get me, my baby.
You don't really see that I live for your touch.
You don't understand me, my dreams or the things I believe in, my love.
You don't understand me. You don't understand me. Understand me.

(Roxxete)

Sunday, August 8, 2010

Wajah 23

FEELIN BLUE



Apakah fisik menghambat saat rasa ini menyatu...
saat aku bisa melayang menjemputmu...
melilitmu, berpilin-pilin dan pecah pudar dalam kerinduan..

pandangan kita terbatas, tapi hati kita saling melihat...
tangan ini selalu membelai wajahmu..
mengusap, merasakannya - getar-getar lembut- yang mengguncang jiwa...

Aku luluh dalam penantian tak bertepi..
kadang sendiri melantakkanku...
diri sirna entah kemana...

Benarkah hasrat terbelenggu oleh ruang dan waktu..
saat pikiran menyatu dalam imaji bersamamu...
senyummu begitu menyiram kering hatiku..
suaramu lembut bergema di anganku...

Sia-siakah rindu ini...
Saat aku tak akan pernah bersamamu..
tapi hati telah terbelah untukmu...

Tuesday, August 3, 2010

Wajah 22

CINTA




Cinta adalah energi dasar...

Sesuatu yang tiba-tiba muncul dan menggerakkan..,

Sesuatu yang selalu mengubah hidup seseorang...

Menghanyutkan ke tempat-tempat yang belum terjamah...

Dan dia tunduk pada hukum kekekalan energi..

tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan...

hanya dapat berubah wujud...


Kadang menjadi Rindu, kadang sayang, kadang semangat, kadang eforia..

KAdang benci, kadang lepuh luruh, kadang jenuh, rapuh...

mencintai bisa menjadi bunuh diri , bisa juga membebaskan...

energi ini berubah seketika tanpa disadari,,,

menjadi energi positif atau negatif

atau bentuk2 lain yang tidak kita mengerti...


Tapi satu hal yang pasti

Cinta itu Indah.

Tuesday, July 27, 2010

Wajah 21

Obama Campaign..



.......
We can choose to end the failed philosophy that’s put Wall Street ahead of Main Street and ended up hurting both.

We can choose to take on the special interests in Washington and make the White House the people’s house again.

We can choose hope over fear, unity over division; the promise of change over the power of the status quo.

I’m Barack Obama. If you give me your vote on Tuesday, we won’t just win this election – together, we will change this country and change the world.

Thank you for listening, and may God bless the United States of America.

Thursday, July 22, 2010

Wajah 20

1000 Ciuman



Saat ini jaman serba susah. Harga BBM naik,
akibatnya terjadi PHK di berbagai perusahaan.

Salah satu yang terkena PHK adalah Paijo.
Bulan ini ia tidak bisa lagi mengirim uang untuk
istrinya di kampung halaman. Ia hanya bisa
mengirim surat. Isinya demikian:

Istriku Tercinta,

Maafkan kanda sayang, bulan ini Kanda tidak bisa
mengirim uang untuk kebutuhan keluarga di rumah.
Kanda hanya bisa mengirimmu 1000 ciuman.

Paling cinta,
Kanda Paijo

Seminggu kemudian Paijo mendapat surat balasan
dari istri tercintanya:

Kanda Paijo tersayang,

Terima kasih atas kiriman 1000 ciumanmu.
Untuk bulan ini Dinda akan menyampaikan laporan
pengeluaran keluarga :

Tukang minyak bersedia menerima 2 ciuman setiap kali
membeli 5 liter minyak tanah.

Tukang listrik mau dibayar dengan 4 ciuman per
tanggal 10 setiap bulannya.

Pemilik kontrakan rumah mau dibayar cicil dengan
3 x ciuman setiap harinya.

Engkoh pemilik toko bahan makanan tidak mau
dibayar pakai ciuman. Ia maunya dibayar dengan
yang lain.. Ya terpaksa Dinda berikan saja.

Hal yang sama juga Dinda berikan buat kepala sekolah
dan gurunya si Udin yang sudah 3 bulan nunggak
uang sekolah..

Besok Dinda mau ke pegadaian untuk tukerin
200 ciuman dengan uang tunai, karena yang punya
pegadaian sudah bersedia menukarkan
200 ciuman + bayaran lainnya dengan uang 650ribu,
lumayan buat ongkos sebulan.

Keperluan pribadi Dinda bulan ini mencapai 50 ciuman.
Kanda tersayang.. bulan ini Dinda merasa jadi orang
yang paling kaya di kampung, karena sekarang Dinda
memberikan piutang ciuman ke banyak pemuda
di kampung kita dan siap ditukar kapan pun Dinda butuhkan.

Kanda, dari kanda masih tersisa 125 ciuman,
apakah kanda punya ide? Atau saya tabung saja ya?

Paling sayang,
dari Dinda seorang.

... Gedubrak!! Paijo pun klenger.

Wajah 19

TANTANGAN VIRTUALITAS




Tantangan 100 tahun ke depan tentu tak sama dengan tantangan 100 tahun lalu. Peralihan dari keterpusatan menuju ketakberpusatan (decentering), dari kesatuan menuju kesalingbergantungan, dari kekuatan institusi menuju kekuatan jejaring, dari batasan realitas menuju virtualitas, adalah di antara tanda-tanda masa depan yang tak dapat diabaikan. Peralihan itu menuntut pemikiran-pemikiran baru kebangsaan dan kenegaraan.
Perkembangan ”abad virtual” telah memengaruhi wacana sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan anak bangsa, yang kini berlangsung di dalam ruang-ruang ”virtual”, dengan definisi, sifat, dan logika yang baru.
Melalui migrasi aneka aktivitas sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan ke dalam ”ruang-ruang virtual”, beralih pula ruang publik konvensional menjadi ”ruang publik virtual” (virtual public sphere), yang di dalamnya realitas politik dibingkai, pandangan moral dibangun, ukuran nilai (value) diciptakan, bakuan kebajikan (virtue) disusun, aneka pertukaran dan transaksi dimediasi, aneka komunikasi dimediasi, dan aneka kebebasan dimanifestasikan.

***
Demokrasi di masa depan digerogoti oleh aneka mesin jejaring, yang tak lagi bertumpu pada ”kekuasaan orang”—baik kekuasaan seorang (otokrasi), beberapa orang (aristokrasi), maupun ”rakyat” (demokrasi)—melainkan pada ”daulat jaringan” itu sendiri. Ada peralihan dari model pengaturan ”totalitas” ke arah ”multiplisitas jejaring” (multiplicity), yang di dalamnya peran negara- bangsa lebih bersifat ”simbolik” karena kedaulatan nyata dipegang oleh aneka jejaring (Hardt dan Negri, Multitude, 2005).

***
Dengan melemahnya kedaulatan negara-bangsa, melemah pula ”kedaulatan rakyat” itu sendiri di dalam sistem demokrasi karena di dalam aneka jejaring virtual kekuatan ”rakyat” (people) diubah menjadi kekuatan ”warga” (citizen) dalam definisi baru, yaitu individu-individu bebas yang ”menavigasi dirinya sendiri” di dalam jaringan, tanpa perlu mengikatkan diri pada kekuatan ”rakyat” sebagai kesatuan. Kekuatan rakyat nanti bersaing dengan kekuatan ”warga jejaring” (network citizen).
Ada kegamangan bangsa ini masuk ke wilayah masa depan yang tampak tak ramah itu. Akan tetapi, tanda-tanda masa depan itu sudah ada di dalam tubuh bangsa ini. Mungkin, aneka bisikan masa lalu, panggilan primitif, suara purba, ruh adat, nyanyian mitos, atau ikatan kepercayaan yang menjadikan bangsa ini gamang menghadapi masa depan penuh enigma, ketakpastian, dan turbulensi itu. Akan tetapi, tak ada jalan menghindar dari genderang masa depan itu.
Bangsa ini harus ikut di dalam ”kafilah masa depan” itu dengan menerima tantangannya. Jangan hanya disibukkan oleh ruang masa lalu, dengan memolesnya seperti sebuah porselen antik, sambil membiarkan kafilah masa depan itu berlalu. Tanpa perlu kehilangan ruh masa lalu, bangsa ini harus ambil bagian dalam kafilah kebangkitan masa depan itu karena kuku jejaringnya sebagian telah menancap di dalam diri, masyarakat, dan tubuh bangsa ini.

~Yasraf Amir Piliang~

Wednesday, July 21, 2010

Wajah 18

LOOSING IS WINNING



Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke
tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai
bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."

*****

"Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan."

Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Semua orang harus memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, dan kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.

Pada saatnya,
kita harus mengumpulkan keberanian untuk
melepaskannya.....

Wajah 17

Krisis Subprime di Amerika Serikat (2008-2009)
Kalau Langit Masih Kurang Tinggi
Oleh: Dahlan Iskan

Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ''menceritakan' ' secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:

Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.

Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.

Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.

Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.

Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.

Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.

Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?

Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa?

Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?

Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop.. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.

Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.

Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun.

Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.

Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.

Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!

Sudah lebih dari 60 tahun cara ''membesarkan' ' perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia..

Tapi, itu belum cukup.

Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!
Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.

Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.

Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah? Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?

Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada 1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut ''Deregulasi Kontrol Moneter''. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.

Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.

Begini ceritanya:

Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski tidak sama).

Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.

Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.

Dengan keluarnya ''jalan baru'' pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.

Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka, ada lagi ''jalan baru'' yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986.

Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.

Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau Denmark , gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.

Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya.. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.

Kata ''mortgage'' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.

Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati.. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?

Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ''para pelaku bisnis keuangan'' sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.

Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.

Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.

Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras. Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.

Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ''bank jenis lain'' yang disebut investment banking.

Apakah investment banking itu bank? Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ''hanya mirip'' bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam ''deposito'' dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan!

Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.

Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah ''personal banking''.

Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana , saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.

Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.

Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.

Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.

Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang berikutnya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.

Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar.
Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?

Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.

Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang ''menabung'' - kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.

Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.

Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana . Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.

Wajah 16

DIALOG ABSURB JAKARTA





Rokoknya gak jadi aja deh
Bapak tua: "Aduuuuh . . . Haduuuuh"
Cowok panik kepada ibu penjaga warung: "Bu! Bu! Itu ada orang di luar teriak-teriak. Itu . . . gembel kali ya bu?"
Ibu penjaga warung: "Itu suami sayaaaaa!"

Tebet, didengar dari dalam mobil oleh istri si cowok panik, yang tanpa sengaja telah melindas kaki si bapak tua


Aku tiba-tiba gak nyaman di sini...
Anak lelaki 4 tahun: " Arti pecah belah apa sih, ma?"
Ibu: "Kalo itu kamu pecah, kamu mama belah."

Toko pecah belah Pondok Indah Mal, didengar oleh wanita yang sampai hampir memecahkan belanjaannya.


Mase Mase Basi...
Pelayan Cewe: " Ari gato go zai mas..."
Pemuda Playboy sok tahu: " Ari gato go zai mbak..."

Sushi Tei, didengar oleh teman yang ingin menjadi orang-orangan sawah.


Itu mah sekali jepret langsung lari...
Pembeli rese: "Mas,ada kamera paranoid ga?"
Penjaga bingung: "Hah?"
Pembeli rese: (nada sok tau) "Itu yg sekali jepret langsung jadi..."

Studio Foto, didengar oleh wanita yang membayangkan ekspresi kamera ketakutan.



Gak bisa diusahain, mas?
Internet addict: "Mas, di sini ada hotspot-nya gak?"
Pelayan: "Kebetulan restoran kami hanya menyediakan makanan Indonesia dengan penyajian standard, mbak."

Restoran di Kemang, didengar oleh seseorang yang hampir menelan sendok.


Kan sekarang jaman mahal!
Si bungsu perempuan ke Ibunya: "Jadi nanti kita daftar TV Kabelnya di Kebon Jeruk yah"
Ibu dengan wajah berseri-seri: "Ya, mending begitu. Kebon Jeruk kan enggak terlalu jauh dari rumah. Jadi nanti kabelnya bisa lebih pendek. Lebih murah."

Rumah di Kemanggisan, didengar oleh kakak lelaki yang ingin menjedutkan kepalanya ke tembok.


Tapi kan bentuknya beda...
Cewe manja: "Beliin aku sepatu itu dong, Yang..."
Cowo sinis: "Ukuran kaki kamu berapa?"
Cewe manja: "36."
Cowo sinis: "Yakin itu ukuran kaki, bukan ukuran BH kamu?"

Mal di Jakarta, didengar oleh seseorang yang tiba-tiba konsen memperhatikan bentuk tubuh si cewe.


Kalo sinyalnya menipis mungkin namanya berubah...
Nyokap: "Ini hape ibu ada G-String-nya ngga?"
Anak: (bengong, berharap salah denger) "Hah?"
Nyokap: "Ini Nokia 3300 ibu ada G-String-nya apa ngga?"
Anak: (masih bengong dan masih berharap salah denger) "G-String?"
Nyokap: "Iya. Itu lho, yang kalo nelepon kita bisa liat muka orang yang teleponan sama kita."
Anak: "Yaoloh! 3G?"
Nyokap: "Nah itu dia. Emang tadi ibu ngomongnya apa?"

Didengar oleh anak yang sempat takut ibunya mulai bercerita tentang kumbang dan bunga.


Tambah satu kilo, saya lapar...
Pembeli: "Mas, beli paku tembok...."
Penjual: "Berapa?"
Pembeli: "Setengah kilo aja..."
Penjual: "Dibungkus?"
Pembeli: (dengan wajah kesal) "Gak! Makan sini!"

Toko bangunan Bekasi, didengar pelanggan yang ingin menyediakan sambal.


Waduh, gua ngomongnya keras ya?
Cewe #1: "Ehh... Malem ini kita nonton apa jadinya?"
Cewe #2: "Nih liat di websitenya.. . Yang seru kayanya cuma Hancock sama Get Smart."
Cewe #1: "Hancock gua mau tuh... tapi Get Smart kurang ah..."
Cowo Nimbrung: (tiba tiba muncul) "Iya tuh Getcock emang lebih seru!"

Perkantoran Sudirman, didengar oleh satu ruangan yang mempertanyakan orientasi cowok itu.



Buah simalakama.. .
Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik: "De, pegangin setirnya. Mama mau garuk pantat!"
Anak laki-laki berusia 18 tahun: "Ah, Mama! Gak mau ah!"
Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik: "Kamu mendingan megangin setir apa garukin pantat Mama?"

Tol Jagorawi, didengar anak perempuan di belakang yang ingin melompat keluar mobil.


Sehat bener ya, jaringannya. ..
Programmer 1: "Kemaren internet gua udah onlen, cuy"
Programmer 2: "Wah selamat-selamat, download pelm lah kita, gak perlu nonton serial di tipi!"
Coordinator: "Gaya bener lo pada, mentang-mentang udah pada pasang internet bearbrand... "

Sebuah warung makan, didengar oleh teman-teman yang langsung bergulingan.


Kami perlu yang representatif. ..
Brand Manager: "Hmmm, bagus, visual-nya bagus. Sayang copywriternya jelek."
Copywriter: "MAKSUD LOE?"

Didengar oleh Creative Director yang langsung menawarkan mengganti copywriter sambil terbahak.


Yang horisontal kalau bisa!
Di sebuah restoran,
Teman #1: "Eh udahan yuk, kite cabs.."
Teman #2: "Gua aja yang panggilin.. Mas! Billboardnya ya!

Restoran di Jakarta, didengar oleh banyak orang yang merasa kasihan dengan pelayannya


Dulu di percetakan ya, mas?
Penjaga Parkir: "Wah mas, stiker parkir langganannya udah exemplar nih, besok diperpanjang ya."

Perkantoran Sudirman, didengar oleh pengemudi yang akhirnya sadar ada tulisan EXP di stikernya.


Otomatis ya, mbak?
Kasir: "Mau order apa, mas?"
Pembeli: "Coca-Cola large satu, sama french fries satu... Itu aja, mbak."
Kasir: "Oke, saya ulang ya, Coca-Cola large satu, french fries large satu. Mau tambah kentang gorengnya, mas?"

Restoran fastfood di Jakarta, didengar oleh pembeli yang merasa dicekokin.


Terus jangan kemanisan ya...
Istri terlambat datang: "Yang, kamu tadi pesan apa?"
Suami: "Escargot."
Istri (ke pelayan): "Saya pesan itu juga, tapi es-nya jangan banyak-banyak ya. Lagi agak flu."

Restoran Perancis di Jakarta, didengarkan oleh semua hadirin di meja yang terbengong sambil menahan ketawa.


Cewek & Rokok: Tidak baik untuk kesehatan?
Cowok berisik: "Jadi waktu itu gue lagi ngeliatin cewek cakep bener, terus gue nyalain rokok. Tapi yang kebakar malah BULU HIDUNG gue!"

Trotoar dekat Plaza Senayan, didengar oleh pejalan kaki yang hampir tersandung.


Yuk,mareeee. ..
Petugas Atmosfear sambil menunjuk ke panel kamera: "Mas, nanti waktu meluncur jangan lupa melambai ya?"
Pemuda gemulai: "Ngondek maksud loe?"

FX, didengar oleh pengunjung yang terpingkal-pingkal sendiri.


Walaupun killer, boleh lah...
Ibu Dosen Killer membacakan jawaban ujian: "Tiga enam, D ya anak-anak... "
Mahasiswa Tengil: (Spontan dan keras) "Wew, gede yo!"

Didengar sekelas yang tidak mau membayangkan nasib akademis mahasiswa itu.


Mungkin kacamata plus, Pak?
Lelaki Paruh Baya: "Mbak, pesanan saya yang kwetiau ganti deh."
Pelayan: "Jadi apa pak?"
Lelaki Paruh Baya: "Mau coba Ayam Nangkring deh..."
Pelayan: "Ayam Nanking maksud bapak?"
Lelaki Paruh Baya: "Eh, gak jadi deh.." (berpikir sambil liat menu) "Ini aja deh kalo gitu, Chicken Garden Blue...."

Solaria, Mal Pondok Indah , didengar oleh pengunjung yang berasa ditonjok hidung dan kemudian ulu hatinya.


Money can't buy everything.. .
Cowo Tajir: "Wah, gua baru beli notebook baru, canggih, keren..."
Cowo Kere: "Oh ya, notebook loe merknya apaan?"
Cowo Tajir: "Microsoft."

Perkantoran Hijau di Jakarta Selatan, didengar oleh cowo kere yang ngerasa otaknya lebih tajir.

Tuesday, July 20, 2010

Wajah 15

CUP AND COFFEE



A group of alumni, highly established in their careers, got together to visit their old university professor. Conversation soon turned into complaints about stress in work and life.

Offering his guests coffee, the professor went to the kitchen and returned with a large pot of coffee and an assortment of cups - porcelain, plastic, glass, crystal, some plain looking, some expensive, some exquisite - telling them to help themselves to hot coffee.. When all the students had a cup of coffee in hand, the professor said: "If you noticed, all the nice looking expensive cups were taken up, leaving behind the plain and cheap ones. It is, but normal for you to want only the best for yourselves, that is the source of your problems and stress. What all of you really wanted was coffee, not the cup, but you consciously went for the best cups and were eyeing each other's cups. Now if life is coffee, then the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold Life, but the quality of Life doesn't change. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee in it." So, don't let the cups drive you... enjoy the coffee instead. Enjoy Life

Tuesday, July 13, 2010

Wajah 14

ONCE





Hanya satu, sekali-kalinya, dan gak akan pernah terulang...
Gak akan pernah datang lagi...

Apa yang akan kamu lakukan saat moment itu datang?
Dan tiap moment akan seperti itu...

Kita gak akan pernah tau, apakah sebuah moment dalam hidup kita akan terulang atau hanya satu-satunya...

So what will u GONNA do??

(morning inspired)

Saturday, July 10, 2010

Wajah 13

CYBERSPACE




Tidak mungkin untuk meyakini jenis kelamin seseorang di cyberspace. Inilah kesempatan ideal untuk melupakan hambatan dan prasangka, dan berkonsentrasi pada apa yang dikatakan orang. Itulah diri mereka yang sesungguhnya.

Jika medium mengubah individu menjadi pulsa-pulsa informasi tubuh, maka apakah arti pesan?

Mungkin atomisasi dan idealisasi individual membukakan jalan menuju kelompok baru, metamorfosis intelejensi yang akan melibatkan kita semua-sebuah rizoma.

Macam-macam ramalan orang tentang cyberspace. Sejak dari surga nirwana hingga neraka anarkis. Mungkin naif membayangkan bahwa kita dapat mempengaruhi masa depan segitu jauh-tapi bola telah mulai bergulir.

Wajah 12

BOYCOTT

...
Sebuah peristiwa besar telah terjadi. Di Surabaya. Siapa sangka suatu peristiwa kecil berkembang menjadi besar, hanya karena suatu prinsip!

Seorang pedagang tionghoa datang pada perusahaan dagang besar Eropa untuk membeli barang dagangan. Salah faham terjadi. Pedagang Tionghoa dihinakan dan diusir. Orang lupa, sejak berdirinya Tiong Hoa Hwee Koan pada 1900 telah tumbuh suatu kekuatan dahsat di kalangan penduduk Tionghoa. Mereka telah mendapatkan kemajuan luar biasa di bidang perdagangan, meninggalkan golongan Pribumi dan golongan Arab serta Timur Asing lainnya-dalam segala bidang. Persatuan dan setiakawan antara mereka menjadi semakin pekat juga semakin terasing dari bangsa-bangsa terperintah lainnya.

Hanya dalam beberapa minggu dan sesuatu yang mengagumkan terjadi. Semua pedagang Tionghoa di Surabaya-kemudian juga menjalar ke kota-kota lain-menolak mengambil barang dagangan dari perusahaan dagang besar Eropa. Dalam beberapa bulan, perusahaan yang belakangan itu gulung tikar. Tiga buah perusahaan besar Eropa lainnya menyusul gulung tikar. Kebangkrutan diikuti oleh keguncangan dalam dunia perbankan. Dunia perdagangan kalang kabut. Pangaruhnya terasa sampai ke lorong=lorong desa. Apalagi di kota-kota.

"Boycott, Tuan," kata Frischboten. Kemudian ia terangkan tentang ajaran Kapten Boycott. Bukan golongan kuat saja punya kekuatan, juga golongan lemah, asal berorganisasi. "Dan hanya dengan berorganisasi, Tuan, golongan lemah bisa menunjukkan kekuatan diri sebenarnya. Boycott, Tuan, perwujutan kekuatan dari golongan lemah."

...
"Yang terpenting di dalamnya hanya satu: unity of mind,"tambah Frischboten. Dan ia tidak mengajukan syarat-syarat lain. Ia tidak bicara tentang agama, keterpelajaran, apalagi jabatan. Hanya kesatuan sikap, keseia-sekataan golongan lemah. Dan golongan lemah mempunyai banyak kepentingan bersama justru karena kelemahannya, yang dapat mempersatukan.

(Pramodya Ananta Toer : Jejak Langkah)

Wajah 11

KACA SPION


Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri
Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Tapi, suatu hari ada kerinduan
dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana. Bukan untuk baca buku, melainkan
makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu
membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang
masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin
saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini
gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga
masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?

Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya
yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke
perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena
harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu
saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia.
Biasanya satu sampai dua jam saya di sana. Jika masih ada waktu, saya
melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru,
sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan
perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di
luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu,
inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta. Harganya Rp 500 sepiring
sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada
uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop
out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan
Siapa

Orang Indonesia. Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis
Indonesia. Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus
meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan
Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut
jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi
gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan
tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya
sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya
penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya
tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya. Sejak kecil
saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma
masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang
teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya
kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya
tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya
langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya
sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan
Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk
disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter,
tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya
bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama
kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil
datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya
dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak
bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion
mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu,
pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan
penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu
itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan,
order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma
satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami ibu, dua kakak, dan
saya harus bisa bertahan hidup sebulan..

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap
akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang.
Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang
untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat
orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya
dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil
baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang
hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu
juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil
itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.

Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil
mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim
layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan
jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada
saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang
gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil
melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.

Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di
dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat.
Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati
nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah
begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak
di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang
sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya
tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado
langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah
merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan
gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya
kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,''
ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba
meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."

Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya
dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu
jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada
ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif.
Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya
takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah.
Berubah menjadi sombong.

Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif.
Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya
tabrak.

Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan
sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya
ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng
terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang,
sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan
mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika
menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.
Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena
terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.

Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu
serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang
merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu,
yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas
keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan
hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang
anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak
ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh
membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok
berbanding beban yang harus mereka pikul.

Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu
saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak
ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya
rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

(Andi F Noya )

Wajah 10

EDENSOR






Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains.

Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin liku-liku hidup yang ujungnya tidak dapat disangka.

Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan.

Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang-gemintang.

Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin.

Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup ! ingin merasakan sari pati hidup!

(Andrea Hirata)

Friday, July 9, 2010

Wajah 9











ILLUMINATI


Walaupun kisah tentang lambang Illuminati merupakan legenda dalam simbologi modern, belum ada ilmuwan yang betul-betul melihatnya. Kata Illuminati berarti `mereka yang tercerahkan'. Itu adalah nama sebuah persaudaraan kuno."
Berbagai dokumen kuno menjelaskan simbol itu sebagai sebuah ambigram-ambi berarti "bisa dua-duanya" dan itu maksudnya bisa dilihat dari dua sisi. Dan walaupun ambigram sering terlihat di berbagai simbol seperti pada swastika, yin yang, bintang Yahudi, dan salib sederhana, pemikiran bahwa sebuah kata dapat diukir menjadi sebuah ambigram tampaknya sangat tidak mungkin. Para Ahli simbologi modern sudah bertahun-tahun mencoba untuk menulis kata Illuminati dengan gaya simetri, tetapi mereka selalu gagal. Umumnya para ilmuwan sekarang memutuskan bahwa simbol itu hanyalah sebuah mitos belaka.

(Dan Brown :Angels and Demons)

Wajah 8

HOPE

Aku lebih suka gagal pada sesuatu yang kusukai daripada berhasil pada sesuatu yang kubenci.

Mengejutkan betapa besar dan banyak yang orang dapat lakukan karena terpaksa. Dan betapa sedikit yang orang akan lakukan karena mereka tidak terpaksa.


Orang hanya akan hebat ketika dia bertindak berdasarkan hasratnya

Tragedi hidup bukanlah kekalahan. Tragedi hidup adalah hampir menang.

Tidak ada obat seperti harapan.

Wajah 7

MIMPI-MIMPI EINSTEIN 1

-26 April 1905-
DI DUNIA ini, segera tampak sesuatu yang ganjil. Kita tidak akan menjumpai rumah di lembah-lembah atau dataran rendah lainnya. Semua orang tinggal di pegunungan.
Suatu ketika di masa silam, ilmuwan menemukan satu kenyataan bahwa waktu berjalan Iebih lambat di tempat yang jauh dari pusat bumi. Efeknya memang sangat kecil, tetapi bisa diukur dengan alat-alat yang sangat sensitive. Ketika fenomena ini diketahui, sejumlah orang yang ingin awet muda berpindah ke gunung-gunung. Kini semua rumah berdiri di atas Dom, Maaerhorn, Monre Rosa, dan dataran tinggi lainnya. Adalah mustahil menjual pemukiman di tempat lain.
Beberapa orang tidak puas dengan sekedar berumah di gunung. Untuk mendapatkan efek yang maksimal, mereka membangun rumah di atas tiang penyangga. Karena itulah, di puncak-puncak gunung di seluruh dunia tampak berdiri rumah-rumah yang dari kejauhan bagai sekawanan burung gemuk yang sedang berjongkok di atas kaki-kaki kurus mereka. Orang-orang yang berhasrat hidup sangat lama. membangun rumah di atas tiang penyangganya yang sangat tinggi pula. Bahkan, dibeberapa rumah berdiri setengah mil di aras tiang penyangga dari kayu gelondongan.
Ketinggian menjadi status. Ketika seseorang menatap tetangganya yang ada di atas lewat jendela dapur, ia percaya bahwa tetangganya itu tidak menua secepat dirinya, tidak kehilangan rambut hingga akhir, tidak berkeriput, dan tetap memiliki hasrat bermain cinta. Sebaliknya, seseorang yang melongok ke bawah, menganggap penghuninya kehabisan tenaga, lemah, dan pikun. Beberapa orang mambual bahwa mereka menjalani seluruh hidupnya di ketinggian, lahir di rumah tertinggi di puncak gunung tertinggi, dan tak pernah sekali pun turun. Mereka merayakan kemudaan mereka dengan senantiasa menatap cermin dan berjalan telanjang di balkon-balkon.
Kini atau nanti, beberapa urusan penting memaksa orang untuk turun dari rumah, Mereka melakukannya dengan bergegas, buru-buru menuruni tangga menuju tanah, berlari ke arah tangga yang lain atau lembah, segera menyelesaikan urusan dan secepatnya pulang. Mereka tahu bahwa tiap langkah ke bawah, waktu berjalan lebih cepat dan mereka menjadi cepat tua pula. Sementara itu, orang-¬orang yang tinggal di bawah tidak pernah duduk. Mereka berlari, sembari menjinjing tas kerja atau bahan makanan mereka.
Sejumlah kecil warqa di tiap kota tak peduli apakah umur mereka menua lebih cepat beberapa detik dari terangga mereka. Jiwa-jiwa pemberani ini menuju ke dataran rendah pada hari-hari tertentu, bersantai di bawah pohon, berenanq riang di danau yang terletak di ketinggian yang Iebih hangat, berquling-quling di tanah, mereka nyaris tak pernah melihat jam tangan. Juga tak peduli apakah sekarang hari Senin atau Kamis. Ketika oranq lain melintasi mereka denqan terburu-buru dan pandangan menqhina, mereka hanya tersenyum.
Lambat laun, orang Iupa pada alasan menqapa tinggal di tempat yang lebih tinqgi adalah lebih baik. Meski pun begitu, mereka tetap bertahan hidup di qununq-qunung. Sedapat munqkin menghindari daerah tikunqan, mengajari anak-anak mereka agar menjauhi anak-anak yang tinggal di tempat yang lebih rendah. Mereka tahan terhadap hawa dinqin pegununqan, menikmati ketidaknyamanan itu sebagai bagian dari pendidikan. Mereka bahkan meyakini bahwa udara yang tipis bagus untuk tubuh, dan dengan menqikuti loqika ini, mereka menjalani diet yang keras, makan hanya dalam porsi kecil Akibatnya, populasi di ketinqgian menjadi setipis udara, keropos, dan meniadi tua sebelum waktunva.

Thursday, July 8, 2010

Wajah 6

SUPERNOVA 1
(Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh)

Ksatria jatuh cinta pada puteri bungsu dari kerajaan bidadari
sang Puteri naik kelangit
Ksatria Kebingungan
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang
tapi tidak tahu caranya terbang
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu
tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon
Ksatria lalu belajar pada burung gereja
burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai keatas menara
Ksatria kemudian berguru pada burung elang
burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung
tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi
Ksatria sedih, tapi tak putus asa
Ksatria memohon pada angin
angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi
lebih tinggi dari gunung dan awan
namun sang Puteri masih jauh di awang-awang
dan tak ada angin yang mampu menusuk langit
Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa
sampai satu malam ada Bintang Jatuh
yang berhenti mendengar tangis dukanya
ia menawari Ksatria untuk mampu melesat secepat cahaya
melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu
namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya
maka ia akan mati, hancur dalam kecepatan yang membahayakan
menjadi serbuk yang membedaki langit dan tamat
Ksatria setuju, ia relakan seluruh kepercayaannya pada Bintang Jatuh
menjadi sebuah nyawa, dan ia relakan nyawa itu bergantung
hanya pada serpih detik yang mematikan
Bintang Jatuh menggenggam tangannya
"inilah perjalanan sebuah cinta sejati", ia berbisik
"tutuplah matamu, Ksatria. katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan
keberadaannya"
melesatlah mereka berdua
dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Ksatria mungil
namun hangat hatinya diterangi rasa cinta
dan ia merasakannya, "berhenti"
Bintang Jatuh melongok kebawah
dan ia pun melihat sesosok Puteri cantik yang kesepian
bersinar bagaikan Orion ditengah kelamnya galaksi
ia pun jatuh hati
dilepaskannya genggaman itu
sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya
Ksatria melesat menuju kehancuran
sementara sang Bintang mendarat turun
untuk dapatkan sang Puteri
Ksatria yang malang
sebagai balasannya dilangit kutub dilukiskan Aurora
untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.......................

Wajah 5

NARSIS


Alkemis itu mengambil buku yang dibawa seseorang dalam karavan. Membuka-buka halamannya, dia menemukan sebuah kisah tentang Narcissus.
Alkemis itu sudah tahu legenda Narcissus, seorang muda yang setiap hari berlutut di dekat sebuah danau untuk mengagumi keindahannya sendiri. Ia begitu terpesona oleh dirinya hingga, suatu pagi, ia jatuh kedalam danau itu dan tenggelam. Di titik tempat jatuhnya itu, tumbuh sekuntum bunga, yang dinamakan narcissus.
Tapi bukan dengan itu pengarang mengakhiri ceritanya.
Dia menyatakan bahwa ketika Narcissus mati, dewi-dewi hutan muncul dan
mendapati danau tadi, yang semula berupa air segar, telah berubah menjadi danau airmata yang asin.
"Mengapa engkau menangis?" tanya dewi-dewi itu.
"Aku menangisi Narcissus," jawab danau.
"Oh, tak heranlah jika kau menangisi Narcissus," kata mereka, "sebab walau kami selalu mencari dia di hutan, hanya kau saja yang dapat mengagumi keindahannya dari dekat."
"Tapi... indahkah Narcissus?" tanya danau.
"Siapa yang lebih mengetahuinya daripada engkau?" dewi-dewi bertanya heran.
"Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi dirinya!"
Danau terdiam beberapa saat. Akhirnya, ia berkata:
"Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu
indah. Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa
melihat, di kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri."
"Kisah yang sungguh memikat," pikir sang alkemis.


(Taken From : Sang Alkemis)

Wajah 4

I'M WITH YOU

I'm Standing on a bridge

I'm waitin in the dark

I thought that you'd be here by now

Theres nothing but the rain

No footsteps on the ground

I'm listening but theres no sound


Isn't anyone tryin to find me?

Won't somebody come take me home

It's a damn cold night

Trying to figure out this life

Wont you take me by the hand

take me somewhere new

I dont know who you are

but I... I'm with you


im looking for a place

searching for a face

is anybody here i know

cause nothings going right

and everythigns a mess

and no one likes to be alone


Isn't anyone tryin to find me?

Won't somebody come take me home

It's a damn cold night

Trying to figure out this life

Wont you take me by the hand

take me somewhere new

I dont know who you are

but I... I'm with you


oh why is everything so confusing

maybe I'm just out of my mind

yea yea yea


It's a damn cold night

Trying to figure out this life

Wont you take me by the hand

take me somewhere new

I dont know who you are

but I... I'm with you


Take me by the hand

take me somewhere new

I dont know who you are

but I... I'm with you

I'm with you


Take me by the hand

take me somewhere new

I dont know who you are

but I... I'm with you

I'm with you

I'm with you...

(Avril)

Wajah 3

FARAWAY SO CLOSE ~ STAYS

Green light, seven eleven
You stop in for a pack of cigarettes
You don’t smoke, don’t even want to
I see you check your change
Dressed up like a car crash
The wheels are turning byt you’re upside down
You say when he hits you, you don’t mind
Because when he hurts you, you feel alive
Is that what it is?

Red lights, grey morning
You stumble out of a hole in the ground
A vampire or a victim
It depend’s on who’s around
You used to stay in to watch the adverts
You could lip synch to the talk shows

And if you look, you look through me
And if you talk it’s not to me
And when I touch you, you don’t feel a thing

If I could stay... then the night would give you up
Stay, and the day would keep it’s trust
Stay, and the night would be enough

Faraway, so close
Up with the static and the radio
With satelite television
You can go anywhere
Miami, new orleans, london, belfast and berlin

And if you listen I can’t call
And if you jump, you just might fall
And if you shout I’ll only hear you

If I could stay... then the night would give you up
Stay then the day would keep it’s trust
Stay with the demons you drowned
Stay with the spirit I found
Stay and the night would be enough

Three o’clock in the morning
It’s quiet and there’s no one around
Just the bang and the clatter
As an angel runs to ground
Just the bang and the clatter
As an angel hits the ground

http://www.youtube.com/watch?v=o2EW9RM2LGA

Wednesday, July 7, 2010

Wajah 2

TENTANG RASA


Aku tersesat
Menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Ijinkan ku lepas penatku
Tuk sejenak lelap di bahumu

Reff :
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti
Selamanya

Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Ku titihkan cahaya terang
Tak padam di dera goda dan masa

(Astrid)

I Love You...

Now and forever

Friday, July 2, 2010

Wajah 1

I've been here before a few times
And I'm quite aware we're dying
And your hands they shake with goodbyes
And I'll take you back if you'd have me
So here I am I'm trying
So here I am are you ready

Come on let me hold you touch you feel you
Always
Kiss you taste you all night
Always

And I'll miss your laugh your smile
I'll admit I'm wrong if you'd tell me
I'm so sick of fights I hate them
Lets start this again for real

So here I am I'm trying
So here I am are you ready
So here I am I'm trying
So here I am are you ready

Come on let me hold you touch you feel you
Always
Kiss you taste you all night
Always
Come on let me hold you touch you feel you
Always
Kiss you taste you all night
Always

I've been here before a few times
And I'm quite aware we're dying

Come on let me hold you touch you feel you
Always
Kiss you taste you all night
Always
Come on let me hold you touch you feel you
Always
Kiss you taste you all night
Always
Always
Always

(Blink : Always)