Thursday, July 22, 2010

Wajah 19

TANTANGAN VIRTUALITAS




Tantangan 100 tahun ke depan tentu tak sama dengan tantangan 100 tahun lalu. Peralihan dari keterpusatan menuju ketakberpusatan (decentering), dari kesatuan menuju kesalingbergantungan, dari kekuatan institusi menuju kekuatan jejaring, dari batasan realitas menuju virtualitas, adalah di antara tanda-tanda masa depan yang tak dapat diabaikan. Peralihan itu menuntut pemikiran-pemikiran baru kebangsaan dan kenegaraan.
Perkembangan ”abad virtual” telah memengaruhi wacana sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan anak bangsa, yang kini berlangsung di dalam ruang-ruang ”virtual”, dengan definisi, sifat, dan logika yang baru.
Melalui migrasi aneka aktivitas sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan ke dalam ”ruang-ruang virtual”, beralih pula ruang publik konvensional menjadi ”ruang publik virtual” (virtual public sphere), yang di dalamnya realitas politik dibingkai, pandangan moral dibangun, ukuran nilai (value) diciptakan, bakuan kebajikan (virtue) disusun, aneka pertukaran dan transaksi dimediasi, aneka komunikasi dimediasi, dan aneka kebebasan dimanifestasikan.

***
Demokrasi di masa depan digerogoti oleh aneka mesin jejaring, yang tak lagi bertumpu pada ”kekuasaan orang”—baik kekuasaan seorang (otokrasi), beberapa orang (aristokrasi), maupun ”rakyat” (demokrasi)—melainkan pada ”daulat jaringan” itu sendiri. Ada peralihan dari model pengaturan ”totalitas” ke arah ”multiplisitas jejaring” (multiplicity), yang di dalamnya peran negara- bangsa lebih bersifat ”simbolik” karena kedaulatan nyata dipegang oleh aneka jejaring (Hardt dan Negri, Multitude, 2005).

***
Dengan melemahnya kedaulatan negara-bangsa, melemah pula ”kedaulatan rakyat” itu sendiri di dalam sistem demokrasi karena di dalam aneka jejaring virtual kekuatan ”rakyat” (people) diubah menjadi kekuatan ”warga” (citizen) dalam definisi baru, yaitu individu-individu bebas yang ”menavigasi dirinya sendiri” di dalam jaringan, tanpa perlu mengikatkan diri pada kekuatan ”rakyat” sebagai kesatuan. Kekuatan rakyat nanti bersaing dengan kekuatan ”warga jejaring” (network citizen).
Ada kegamangan bangsa ini masuk ke wilayah masa depan yang tampak tak ramah itu. Akan tetapi, tanda-tanda masa depan itu sudah ada di dalam tubuh bangsa ini. Mungkin, aneka bisikan masa lalu, panggilan primitif, suara purba, ruh adat, nyanyian mitos, atau ikatan kepercayaan yang menjadikan bangsa ini gamang menghadapi masa depan penuh enigma, ketakpastian, dan turbulensi itu. Akan tetapi, tak ada jalan menghindar dari genderang masa depan itu.
Bangsa ini harus ikut di dalam ”kafilah masa depan” itu dengan menerima tantangannya. Jangan hanya disibukkan oleh ruang masa lalu, dengan memolesnya seperti sebuah porselen antik, sambil membiarkan kafilah masa depan itu berlalu. Tanpa perlu kehilangan ruh masa lalu, bangsa ini harus ambil bagian dalam kafilah kebangkitan masa depan itu karena kuku jejaringnya sebagian telah menancap di dalam diri, masyarakat, dan tubuh bangsa ini.

~Yasraf Amir Piliang~